#

Kamis, 15 Maret 2012

Kembali ke Tujuan Pendidikan



Tujuan pendidikan Nasional sebagaimana dirumuskan dalam UU Nomor 2 tahun 1989 adalah “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”. Dari tujuan tersebut, sangat jelas bahwa output yang diharapkan dari proses pendidikan di sekolah sebenarnya bukan hanya sekedar pribadi-pribadi yang cerdas secara intelektual saja, namun juga harus memiliki budi pekerti luhur berdasarkan keyakinan yang mendalam kepada Tuhan yang Maha Esa.

Jika keberhasilan sebuah lembaga pendidikan hanya diukur dari sisi intelektual saja, maka sebagian besar sekolah di Indonesia sudah sukses dan berhasil. Hal ini dapat dilihat dari prosentasi kelulusan UN tahun 2011 yang mencapai angka 99,22 persen. Artinya mayoritas lulusan SMA di Indonesia sudah melampaui standar minimal kelulusan yang ditentukan oleh pemerintah. Namun, realitanya prosentasi kelulusan yang fantastis itu tidak berbanding lurus dengan peningkatan kualitas SDM di Indonesia. Sebagai contoh, banyak politisi, yang sebagian diantaranya adalah sarjana hukum, justru tersangkut kasus korupsi yang mengakibatkan kerugian Negara. Para politisi tersebut tentu orang-orang yang cerdas secara intelektual, namun kecerdasan itu justru mereka gunakan untuk melakukan hal yang tidak terpuji. Artinya, kecerdasan yang mereka miliki justru merugikan banyak orang karena tidak digunakan sebagaimana mestinya. Ini membuktikan bahwa kecerdasan intelektual saja belum cukup menjawab kebutuhan zaman.

Indikator keberhasilan proses pendidikan, jika merujuk kepada tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam undang-undang, sebenarnya tidak diukur dengan nilai UN ataupun nilai ujian yang tertulis diatas kertas, namun justru pada keyakinan kepada Tuhan yang Maha Esa yang dibuktikan dengan perilaku. Jadi, seharusnya seorang siswa belum dinyatakan tuntas dalam menempuh pendidikan di sekolah jika belum mampu menerapkan perilaku jujur dan tanggungjawab, walaupun Ia mendapatkan nilai yang tinggi dalam ujian.

Untuk menumbuhkan sikap dan budi pekerti yang luhur pada diri siswa, diperlukan upaya menanamkan kesadaran dalam beragama, atau mengembangkan kecerdasan spiritual pada diri siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti membiasakan siswa dengan aktifitas keagamaan di sekolah. Disamping itu, sekolah dapat mengadakan training kecerdasan spiritual di sekolah secara rutin berkala. Karena dengan keyakinan yang mendalam kepada Tuhan yang Maha Esa, dengan sendirinya akan menumbuhkan nilai-nilai luhur dan menghilangkan perilaku negatif pada diri siswa.
Maka, sekolah seharusnya bukan hanya menjadi lembaga intelektual saja, namun harus mampu menjadi lembaga spiritual. Sehingga output yang dihasilkan oleh sekolah adalah output yang sesuai dengan tujuan pendidikan Nasional, yaitu pribadi yang cerdas dan beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Sedangkan pembuktian dari iman kepada Tuhan itu adalah dengan perilaku-perilaku terpuji, seperti jujur, tanggungjawab, dan amanah. (sumber: http://fahrihidayat.blogspot.com)

*Fahri Hidayat, Guru dan Wakil Kepala Urusan Kurikulum Agama SMP-SMA Muhammadiyah Boarding School (MBS) Yogyakarta.

* Tulisan ini dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat.

Senin, 27 Februari 2012

Memahami Pendidikan Sebagai Sebuah Proses

Sebagai seorang guru, kita tentu sering dihadapkan dengan masalah kenakalan siswa siswi kita. Karakter dan kepribadian anak yang oleh guru dianggap sebagai sebuah kenakalan itu sebenarnya merupakan produk dari serangkaian proses yang begitu panjang. Untuk itu para guru dan pendidik harus bisa melihatnya dari sudut pandang yang lebih bijaksana.

Karakter dan kepribadian seseorang tidak mungkin terbentuk secara tiba-tiba, karena perlu waktu yang panjang untuk membentuk pribadi seseorang. Oleh karena itu, diperlukan sebuah proses tertentu untuk membangun sebuah kepribadian. Diantara hal yang mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang, disamping faktor genetik dan lingkungan, adalah paradigma kita tentang kehidupan. Sedangkan paradigma itu terbangun secara bertahap dari informasi-informasi yang diperoleh.

Ketika seorang anak tumbuh di lingkungan yang tidak baik, dimana setiap hari ia mendapatkan perlakuan yang kasar, mendengar kata-kata kotor, dan menyaksikan perilaku-perilaku yang negatif, maka ia akan tumbuh menjadi seseorang dengan kepribadian yang mencerminkan lingkungannya itu. Barangkali ia tidak pernah merasa bersalah dengan semua yang ia saksikan, karena baginya memang seperti itulah kehidupan.

Untuk itu, seorang guru harus memahami pendidikan sebagai sebuah proses. Karena untuk membentuk karakter dan kepribadian murid menjadi seperti yang diharapkan oleh guru tidak mungkin dapat dilakukan dengan spontanitas, apalagi latar belakang para murid sangat beragam. Dalam ajaran Islam, kita diperintahkan untuk mengajarkan kepada anak-anak kita shalat pada usia 7 tahun, kemudian kita diperbolehkan untuk memberikan hukuman, seperti memukulnya jika anak tidak mau melaksanakan shalat, pada usia anak menginjak 10 tahun. Artinya ada jenjang waktu dari proses mengajarkan sampai pada pemberian hukuman. Jenjang waktu itulah yang disebut dengan proses.
Inti dari tujuan pendidikan adalah mengubah karakter dan kepribadian siswa dari yang belum baik menjadi lebih baik. Dengan cara pandang ini, maka lembaga pendidikan sebenarnya adalah tempat untuk memproses peserta didik yang belum baik supaya menjadi baik. Hasil akhir dari proses itu adalah outputnya. Jadi, sudah menjadi tugas dan kewajiban seorang guru untuk membina, membimbing dan memproses para muridnya supaya menjadi lebih baik sesuai dengan yang diharapkan oleh guru dan sekolah.

Adapun proses dan sistematis yang dapat ditempuh seorang guru dalam mendidik dan membina adalah dengan memberikan keteladanan, kemudian membiasakan siswa dengan kegiatan-kegiatan positif, memberikan arahan dan nasehat-nasehat, mengadakan kontrol dan pengawasan, dan yang terakhir memberikan hukuman. Jadi, hukuman diberikan jika sudah melalui 4 proses sebelumnya.

*Fahri Hidayat, Guru dan Wakil Kepala Bidang Kurikulum Agama SMP-SMA Muhammadiyah Boarding School (MBS) Yogyakarta

* tulisan ini dimuat di koran Kedaulatan Rakyat.

Senin, 13 Februari 2012

Teori Setengah Berdiri


Bayangkan saat anda sedang mengikuti upacara bendera, dimana anda dituntut untuk berdiri dengan sikap sempurna. Kemudian tanyakanlah pada diri anda: berapa lama kah anda mampu berdiri dengan sikap sempurna seperti itu? setelah anda menemukan jawabannya, sekarang bayangkanlah jika anda dalam posisi setengah berdiri. Anda tidak duduk, namun juga tidak berdiri. Anda hanya setengah berdiri. Bayangkan diri anda dalam posisi setengah berdiri seperti itu. kemudian tanyakan pada diri anda : berapa lamakah anda mampu bertahan dalam posisi setengah berdiri?

Barangkali anda mampu bediri tegak selama satu jam saat mengikuti upacara bendera. Namun mampukah anda dalam posisi setengah berdiri selama satu jam? Bukankah setengah berdiri itu akan lebih melelahkan dan lebih menyiksa, dibandingkan dengan ketika anda benar-benar berdiri? Ya, segala sesuatu yang dikerjakan setengah-setengah sebenarnya justru lebih banyak menguras energi dibandingkan dengan jika dikerjakan dengan sepenuh hati. Seperti contoh diatas, ternyata setengah berdiri jauh lebih melelahkan. Maka, kerjakan dengan sepenuh hati, atau tidak sama sekali!

Jika anda merasa berat dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah atau tugas-tugas kantor, kemudian anda sering mengeluhkan keadaan tersebut, bukankah sebenarnya dengan mengeluh itu anda justru menambah berat beban hidup anda? Jika memiliki kesempatan untuk mengeluh, mengapa tidak digunakan kesempatan itu untuk memikirkan cara, strategi, dan jalan keluar?

Jadi, mengerjakan dengan maksimal saja belum cukup. Harus dilengkapi dengan keikhlasan. Ikhlas berarti mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati. Dengan demikian, energi yang kita keluarkan akan menjadi lebih efektif. (sumber: http://fahrihidayat.blogspot.com)

Optimalisasi PAI dalam membangun Akhlak Mulia


Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan salah satu mata pelajaran yang masuk kedalam kurikulum Nasional. Oleh karenanya, mata pelajaran PAI selalu ada dalam kurikulum sekolah, baik sekolah negeri atau swasta. Hanya saja, sekolah-sekolah Islam biasanya menambahkan alokasi waktu untuk mata pelajaran PAI dengan porsi yang lebih banyak dibandingkan dengan yang diterapkan pada sekolah umum. Harapannya, dengan penambahan jam perminggunya, PAI mampu mendorong siswa untuk menumbuhkan karakter dan kepribadian yang luhur.

Hanya saja, dalam perkembangannya ternyata penambahan jam untuk mata pelajaran PAI belum menemukan peran yang optimal. Buktinya, degradasi moral seperti tawuran antar pelajar dan seks bebas masih merajalela di Negeri ini. Ironisnya, banyak dari pelajar sekolah Islam justru menjadi bagian dari degradasi moral tersebut. Ini menjadi bukti, bahwa penanaman akhlak mulia untuk para siswa dengan menambahkan mata pelajaran PAI masih belum optimal. Bahkan, banyak sekolah Islam yang justru terbelakang, bukan hanya dari sisi intelektual dan akademisnya saja, melainkan juga dari sisi moral dan kepribadian.

Selama ini PAI dianggap sebagai mata pelajaran yang berkaitan dengan hati saja. Bahkan pada saat Kementerian Agama Republik Indonesia menggulirkan gagasan untuk menjadikan PAI sebagai salah satu mata pelajaran yang diikutkan dalam Ujian Nasional (UN), Banyak pihak yang tidak sependapat karena mengganggap domain PAI adalah hati, bukan akal. Sedangkan mata pelajaran lain yang ikut UN seperti Matematika, IPA, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia berkaitan dengan akal, bukan hati. Dengan argumentasi itu, maka memasukkan PAI kedalam UN dianggap tidak relevan.

Sebenarnya, semua mata pelajaran, termasuk PAI, pasti mencangkup wilayah kognitif, afektif, dan psikomotor. Obyek kajian yang masuk dalam kurikulum PAI di sekolah umum meliputi Qur`an, Hadist, Fiqih, Akhlak, dan Tarikh. Dalam menghafalkan ayat atau hadist tertentu, atau memahami teori fiqih dalam madzhab tertentu, siswa dituntut untuk menggunakan akalnya. Karena tanpa mengetahui landasan teorinya, sulit untuk mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, aspek kognitif atau daya akal dalam mata pelajaran PAI tetap harus diperhatikan.

Selain itu, optimalisasi PAI dalam membangun kepribadian siswa tidak cukup hanya dengan penambahan jam saja. Namun perlu diadakakan pembiasaan terkait dengan pengamalan PAI dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat dilaksanakan misalnya dengan mewajibkan siswa untuk mengisi absen kehadiran pada saat shalat wajib di sekolah, melarang untuk bergaul secara berlebihan dengan lawan jenis, atau penugasan untuk mengisi khutbah jum`at di sekolah untuk siswa putra. Selain itu guru PAI harus selalu berkoordinasi dengan orang tua murid terkait dengan controling dan monitoring pengamalan PAI di rumahnya masing-masing.

Untuk memicu semangat para siswa dalam PAI, pihak sekolah dapat mengadakan semacam olimpiade PAI secara rutin berkala. Biasanya Olimpiade PAI terdiri dari beberapa cabang lomba seperti: Ceramah, Khutbah Jum`at, Adzan, Kaligrafi, Seni Membaca Qur`an, Hafalan Hadist, Majalah Dinding Islami, dan lain sebagainya.

*) Fahri Hidayat, Guru dan Wakaur Kurikulum Bidang Agama SMP- SMA Muhammadiyah Boarding School (MBS) Yogyakarta

*) Tulisan ini dimuat di koran Kedaulatan Rakyat.

Jumat, 06 Januari 2012

Lapangkan Hati, Raih Prestasi!


Pada suatu hari ada seorang murid yang mendatangi gurunya. Sang murid berkeluh kesah kepada gurunya “Guru, aku sudah muak dengan hidupku. Aku sering diolok-olok teman-temanku, bahkan aku sering difitnah dan dipojokkan. Aku merasa hidupku tak ada artinya lagi. Aku ingin bunuh diri saja, guru!”. Mendengar keluhan yang disampaikan oleh muridnya itu, Sang Guru tidak langsung menjawab. Ia mengambil secangkir gelas dan mengisi gelas tersebut dengan air. Kemudian Ia memasukkan satu sendok garam kedalam gelas yang sudah berisi air tersebut dan mengaduknya hingga garam benar-benar larut.

Sang Guru kemudian berkata “anakku, coba kamu cicipi air yang ada di gelas ini”. Sang muridpun kemudian mencicipinya. “bagaimana rasanya?” tanya Guru. “rasanya asin sekali guru” jawabnya. Sang Guru kemudian mengajak murid itu berjalan menuju sebuah telaga. Sesampainya di telaga, Sang guru memasukkan satu sendok garam kedalam telaga tersebut. Setelah garam benar-benar larut, Ia meminta muridnya untuk mencicipi air telaga tersebut. Sang muridpun mengikuti perintah gurunya. “bagaimana rasanya?” tanya guru. “rasanya segar sekali guru..” jawab muridnya.

Kemudian dengan bijak Sang Guru berkata “duhai anakku, mengapa air yang digelas tadi asin dan air telaga ini tetap segar, Padahal keduanya sama-sama dicampur dengan satu sendok garam? Ketahuilah, air itu ibarat hatimu. Apabila hatimu itu sempit seperti gelas, maka satu sendok garam saja sudah cukup membuatnya asin. Namun jika hatimu seluas telaga, maka satu sendok garam itu tak akan berarti apapun! Dan air telaga tetap akan terasa segar walau dicampuri dengan satu sendok garam sekalipun. Karena telaga itu luas. Maka, jadikan hatimu seluas telaga nak!”

Cerita ini mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya melihat sebuah masalah. satu sendok garam pada cerita diatas ibarat sebuah problematika: konflik, kegagalan, kecewa, dan lain sebagainya. Ternyata semua tergantung pada bagaimana hati kita merespon masalah. jika hati kita seluas telaga, maka fikiran kita pun tetap akan jernih walau diterpa dengan masalah-masalah. sehingga, dengan fikiran yang jernih itu kita akan selalu keluar dari semua problematika hidup dengan prestasi kemenangan.(sumber: http://fahrihidayat.blogspot.com)